“Tok.. Tok Tok Tok.. Tok Tok”
“Pada kemana yaa… Oe.. bangun !!!”, kata suara dibalik pintu.
Masih begitu pagi ketika pintu kantor diketuk. Setidaknya masih begitu pagi buat kami. Tapi untuk Jalan Gejayan, jam 6.00 bisa dibilang padat2nya. Lalu lintas di jalan ini hampir tak pernah tidur. Tapi suara bisingĀ kenalpot kendaraan sudah menjadi alunan musik klasik bagi makhluk2 di Misi Computer. Makanya jam segini masih nyenyak juga tidur kami, kalo saja tidak ada suara usil tadi.
Dan begitu mendengar ketukan tak beraturan, serta merta 5 makhluk tergugah dari tidur dan setengah tidurnya. Mas Edi yg pertama bangun. Langsung berlari ke kamar dalam untuk melanjutkan perjuangan tidurnya. Nyungsep dengan sempurna di samping Mas Budi yang lagi mimpi dikejar hansip.
Made yg tidur di jajaran kursi juga tergaket, dan segera lari ke dalam. Aku yang terpaksa tidur di lantai beralas karpet dan setengah tikar tertahan di pintu tengah karena kalah duluan dengan Made yang telah lebih dulu melayang ke dalam toilet. Sementara joko yang tengah menikmati nyamannya meja komputer, hanya tergagap sayu sambil segera membukakan pintu depan.
“Mungkin pelanggan”, pikirnya.
Kantor Misi Computer emang payah abis. Ruang kerja berukuran 3×7 m plus satu kamar dalam 2×3 meter. Bisa dibayangkan jika ada 5 makhluk hidup yang mencoba mempertahankan hidupnya, tidur bersama di ruangan tersebut.
Setiap malam dengan susah payahnya kami mengatur posisi komputer2 yang ada, melakukan make over ruang kantor menjadi kamar tidur, coz kamar dalam sudah jelas punya Boss. Makanya setiap jam tidur, area tidur kami tak pernah sama. Ada yang dilantai beralas karpet, di meja kerja yang ditata sedemikian rupa, diatas susunan kursi, kalo perlu nyungsep di bawah lemari.
“Halooo good morning, everybody… haalah.. jam segini baru pada bangun !”
Saat itu sesosok bentuk misterius nongol di depan pintu. Sinar matahari pagi terasa semakin terang saat sosok itu menampakkan bentuk kepalanya. Cling bgt.
“Gimana kalian ini.. orang yang lain dah berupaya mengejar waktu, kalian malah enak2 tidur, wake up man ! ayooo pada wake up !”
Tak salah lagi, sosok ini adalah Mr. Pathul. Tukang alih bahasanya Misi Computer. Penerjemah handal english - indonesia dan sebaliknya. Disamping jago menerjemahkan, dia juga jago berbicara dan memotifasi. Bagiku dia adalah tokoh ideal untuk promosi produk MLM. Saat ini dengan dandanan khasnya, kepala botak, jas setengah terbuka, baju dan celana halus abis 2x disetrika dan tidak lupa sepatu yang klimis, karena keujanan. Mungkin pelampiasan karena tidak bisa meng-klimiskan rambut.. hehe.
“Heeeh.. kalo ketok pintu pelan dikit kenapa sih? Lom lunas tuh !”, kata Joko kesel. Harapannya tadi ada pelanggan imut2 yg mau ambil ketikan kemaren, ga taunya sebentuk makhluk amit2.
“Kok malah bentak saya, harusnya bilang terimakasih karena sudah mengingatkan.. mana Budi? Apa dia juga masih mendengkur? Manajer kok kayak gitu, gimana anak buahnya. Kalo saya… bla… bla…”
Joko hanya diem ga komentar, dan berlalu ke belakang.
Gantian mas Pathul yang dongkol, karena belum sempet mengutarakan ilmu motivasinya dah ditinggal pergi.
Oia.. mas Pathul itu temen sekelasnya mas Budi dan mas Edi. Di Misi Computer, dia bertugas di bagian terjemahan. Karena sifatnya freelance, jadi jarang ke Misi kecuali ada job. Hari ini tumben2an tuh orang. Pagi2 dah bikin onar di negeri gila penuh kedamaian ini.
Dan sesaat kemudian, dengan sangat terpaksa kami memulai aktifitas kantor lebih pagi. Biasanya buka jam 8, khusus edisi ini buka jam 6.30 sambil mendengarkan kuliah pagi ala Mr. Pathul. Eh iya, sebelum lanjut aku ingatkan bahwa sebenerya Pathul adalah nama panggilan yg diberikan mas Edi. Mas Edi kan emang orang iseng sedunia, nama orang diganti2 sesuka hati seperti ganti2 sendal (haaa!!?, pantes sendalku sering ilang). Nama sebenernya mas Pathul itu kayaknya Fatchul bin Sanusi. Coba bayangin nama indah begitu jadi ga ada artinya gara2 mas Edi. Dan semenjak mas Edi manggil namanya menjadi Pathul, seluruh warga rental komputer ini sepakat mengikuti jejak sang pencipta, dan terciptalah.. Pathul.
“Jadi begitu teman2, yang terpenting adalah bagaimana memotivasi diri, menyemangati diri dan mencoba setiap kesempatan yang ada sehingga kita menjadi orang beneran..”
Mas Budi dan Joko terbengong-bengong mendengar mata kuliah ilmu semangat pagi itu. Mas Edi yang masih kedinginan karena terpaksa mandi pagi2 dengan setengah hati mendengarkan sambil sok manggut2. Dia emang paling jago berakting.
Sementara itu aku dan Made yang ada jam kuliah pagi lebih suka nongkrong di depan pintu kantor sambil memandang padatnya lalu lintas Jl. Gejayan pagi itu. Pemandangan yang lumayan lah untuk mencuci mata sebelum beraktifitas pagi ini.
Sebagian besar warga Jogja kayaknya emang anak sekolahan, terbukti selama hampir 20 menit kami pandangi jalan ini, selama itu juga makhluk terbanyak yang lewat adalah makhluk putih abu2, disusul putih biru lalu putih merah dan beberapa mahasiswi yang putih-putih (huss… hehe). Pandangan kami agak terganggu dengan datangnya sebentuk vespa biru tua yang datang oleng ke arah kami.
“Haloo..”, sapa pemiliknya berusaha merdu yang bagi kami tak ada merdunya sama sekali.
“Haloo mas, mau ikut kuliah?”, sapaku iseng.
“Hehe.. silahkan yud, aku mau ada urusan penting dengan yg lain”.
Itulah mas Heri, salah satu teman akrab kami. Karena suatu hal, dianya dah jadi bagian tersendiri di Misi Computer. Kayaknya pagi ini dia ga mau ketinggalan dengan obrolan pagi di Misi Computer.
Aku dan made melangkah males menuju kampus, meninggalkan mas Heri dan seluruh warga Misi dalam cengkraman Mr. Pathul.
Siangnya,
sekitar pukul 11 aku dan Made kembali ke sarang penyamun (hehe). Letih juga kuliah pagi ini. Sepagian cuma denger celoteh dosen tentang manajemen industi yang bikin ngantuk.
“waduuh, pada rapi bgt neh”, kataku saat menemukan sekelompok makhluk Misi Computer. Dandanan mereka sama, celana hitam, baju putih lengan panjang, tak lupa dasi. Tapi kayaknya ada yang salah dengan tampang mereka. tampang2nya tampak kesel bgt, manyun.. iya manyun kecuali mas Edi dan mas Budi yang entah kenapa ketawa terbahak2.
“Sialan Pathul…”, mas Heri memulai omelannya.
“Hooh.. awas lo..”, tambah Joko
“Iya.. malu2in aja, gengsi ku hancur lebur deh..”, mas Aan tak kalah dongkol.
“Untung aja aku ga jadi ikut masuk tadi.. hehehehe…”, kata mas Edi bangga.
“Yee.. ko jadi nyalahkan aku. Aku kan juga ga tau kalo bakal jadi begini. Harusnya kalian bangga bisa dpt pengalaman mencari kerja..”, mas Pathul coba mempertahankan diri.
“Kerja model apa kayak gitu.. masak ngantri loket formulir aja di pinggir sawah, udah gitu ternyata cuma disuruh jadi sales sendal jepit !!!!”, kata mas Heri dengan nada sebel yang khas Jogja.
“Emang payah ilmu manajemen kamu.. ga bisa bedain mana lowongan yg elit mana yg asal kerja. Masa iya sih tampang gini jualan sendal.. “, kata mas Aan tak kalah sebel.. “mestinya kan aku jualan…”
“Gudeg ya mas??”, timpal Made asal.. hehehe.
“Ah sialan Made..”, kata mas Aan
Hahaha..
Emang lagi pada suntuk kayaknya siang itu. Ceritanya mas Pathul sang motivator lagi ajak temen2 di Misi untuk nyobain lamar kerja yang lebih elit ketimbang jagain rental komputer. singkat cerita temen2 pada terbuai ikut ngelamar kerja. Sudah perjalanan lumayan jauh, panas, pake ngantri untuk mendapatkan formulir, ga taunya cuma diminta jadi sales boy untuk menjual barang produk terbaru dari PT. Anu Megah Abadi.
“Ternyata memang ga mudah jadi orang sukses”, Kata mas Budi beberapa saat kemudian.
“Makanya sudah pas kita punya usaha gini, bisa bantuin orang banyak.. udah gitu posisiku manajer lagi.. hehe”
Semua sebel mendengarnya.
Tapi bener juga sih kesimpulan mas Budi siang itu, kalau mau jadi boss ya bikin aja perusahaan sendiri. Mungkin besok-besok aku bisa juga mendirikan “Yayasan Yudhi Mulia”. Hehehe.
Hehe… mas Pathul, dimanakah engkau sekarang ?
Kasih kabar dunk.