Siang itu sebenernya aku punya agenda menyelesaikan tugas Arsitektur 1, saat dia muncul di depan kamar. “sebeel.. sebeel, masak semua harus perfect sih.. Enoo sayang coba liat ini !”, keluh Diza yang tak kunjung usai. Tak tahan juga sih walaupun sebenernya aku sudah terbiasa dengan polah tingkah dan keluhan makhluk manis ini.
“Kenapa lagi za..?”, Tangan kananku masih asik klak-klik di atas optical mouse yang umurnya belum genap 2 minggu itu. Menjalankan AutoCAD 2006 di kompiku ini serasa lagi mendownload movie kapasitas besar di warnet sebelah rumah, lambat banget ! Tapi ini terpaksa karena koleksi CD-ku pada bermasalah dan AutoCAD bajakan yg bisa aku install tinggal versi ini. Sementara kemampuan komputer ga bisa dibajak untuk lebih cepet.
Di kepalaku masih terngiang2 kalimat dosen minggu lalu, “… dateline untuk tugas arsitektur 1 adalah 15 september jam 9 pagi !! ” Dan tadi pagi pas bangun karena bunyi weker tetangga, … Busyeet sekarang kan tanggal 14 !
“Noo… denger aku ga sih ??!”, Diza mengulang kalimatnya.
“eh Iya, iya.. denger kok, tapi aku sambil kerja ya… knapa za?”
“Nih, coba liat ! masak laporan yang dah siap jilid harus diganti sih cuman gara2 kurang tanda titik !, Ini kan dah hampir dateline ! kamu kan tau sendiri Noo, aku dah susah payah penelitian sampe daerah kaki Merapi, tapi ga ada penghargaan sama sekali, salah ketik sedikit aja jadi permasalahan… apa susahnya sih acc dulu. Paling2 dosennya juga ga mungkin langsung perfect kalo suruh nulis gini, masak… ENOO!! Kamu ga dengerin aku ya !!”
“Eh denger kok say.. bener, suer… iya aku dengerin kok..”
Saat itu aku memang lupa bahwa arti kalimat mendengarkan bagi cewek itu adalah tataplah matanya saat dia berbicara, kalo perlu atur tampang biar senada dengan dia, dan tak penting kita paham atau tidak arah pembicaraannya.. he3.
“Kamu kayaknya ga serius deh dengerin aku.. cape Noo !! Dengerin aku dong, pliss. Aku cuma butuh temen curhat No.. kamu kan tau bagaimana perjuanganku melakukan penelitian ini, kamu juga pasti tau kan rasanya kalo hasil kita ga dihargai orang lain lagi pula kamu kan cowok aku.. kalo kamu ga mau dengerin.. siapa lagi yang bisa… hikss..”
Nada terakhir yang aku dengar bagaikan interupt tertinggi di otakku. Seketika beberapa kali tombol Alt+F4 tertekan, secara otomatis program AutoCADku yang canggih itu tertutup dan kompiku mulai nyenyak dalam alam shutdownnya.
“Ya udah, ntar aja aku kerjanya ya.. oke deh kamu boleh curhat ma aku.. tapi janji, jangan nangis yah, plis.”
Yup, baru aja kulakukan langkah emergency yang paling tepat. Diza mulai menampakkan senyumnya yang entah mengapa bagaikan remote control yang sewaktu-waktu bisa membuat aku berkata YA tanpa berfikir. Senyumnya ga pernah berubah membosankan, persis seperti saat pertama dia menerima tanda surpriseku berupa sebungkus coklat hasil ngutang di mini marketnya bu RT.
Tau ga.. yang diperlukan seorang cewek ternyata perhatian dan ga lebih. Bahkan sampe sekarang sebenernya Diza ga pernah suka coklat tapi entah kenapa waktu itu dia menerimanya. Dan secara berangsur-angsur suhu kamarku kembali sejuk, berbalikan dengan suhu otakku yang semakin panas, rasanya hampir menguap, semoga saja otakku masih tersisa.
Entah berapa lama kuhabiskan siang itu dengan mendengarkan curhatannya, sudahlah kunikmati saja. Lambat laun aku mulai sadar bahwa kilatan indah matanya jauh lebih hebat daripada AutoCAD bajakan itu. Lebih menarik daripada mouse yang aku beli seharga 65ribu itu. Bahkan dateline dari dosen pun terasa masih 1 abad lagi.
“Diza… kalo boleh aku kasih saran, tapi kamu jangan marah ya.”
“Apa kak??”
Lihat, kalo sapaan cewek dah berubah maka kita sudah mulai pegang kendali. Dan mungkin saat seperti inilah satu2nya kesempatan cowok untuk berbicara logika.
“Maaf ya sayang, tapi segala kewajibanmu itu adalah resiko yang harus kamu lalui. Kamu telah memilih jalan. Maka konsistenlah dengan jalanmu. Masak kamu harus nyerah atau pindah jalur lain gara2 segelintir kerikil di tengah jalan.. Kamu ingat kan hidup itu kayak putaran roda, kadang di atas kadang di bawah. Artinya ingatlah selalu, saat kamu di atas jangan lupa diri atau bersombong ria dan saat kamu di bawah, jangan terlalu mengeluh atau bahkan menyerah”
“Masalah celaan dari dosen, revisi atau apapun yang kamu terima itu hanya sebuah kerikil say.. Terima aja, perbaiki laporanmu menjadi lebih baik atau mungkin lebih ideal bagi dosen. Mungkin memang dosen ga sepinter kamu, tapi mereka kan punya pengalaman lebih, ya paling ga pengalaman ngadepin mahasiswi cantik kayak kamu, hee…”
“Aku juga sadar Za.. ga selamanya studi yang kita tempuh bisa diukur dengan idealitas kita, ga masalah kan. Yang penting di masa mendatang kita bisa menerapkan idealitas ilmu kita menjadi hal yang lebih baik. Sarjana, doktor, profesor atau apalah itukan hanya titel, secondary identity. Identitas yang murni adalah diri kamu sendiri, Za. Lalui aja dulu rintangan kecil ini ga usah mengeluh dan melajulah…”
“Jika kamu melalui segala rintangan tanpa banyak keluhan maka kamu akan melaju cepat ke atas, dan jika kamu bisa mengendalikan kesombonganmu, maka kamu akan melaju lambat ke bawah, yakin lah itu Za.. Itu memang tidak mudah, tapi aku yakin tak ada orang yang bisa mencapai kesuksesan abadi dengan kemudahan dan berpangku tangan”
“Tapi kak…”, potong Diza.
“Ssst… semua itu memang tak mudah, tapi harus dicoba dilakukan, tenang aja aku siap membantu.” Kalimat Diza terpotong saat jariku menyentuh bibir merah jambu itu. Dan…
Sebaiknya cerita siang itu aku akhiri di sini saja.
Malamnya.
“Makasih ya Kak..! daaa !” Mio warna kuning melaju tanpa ragu, meninggalkan senyumnya yang bercampur aroma bensin murni di halaman rumahku. Seharian ini Diza memutuskan merilekskan diri di rumah. Beristirahat dulu, katanya. Sambil sesekali minta pendapatku tentang laporan karya ilmiahnya. Bahkan, sorenya sempet bantuin ibu, bikin masakan buat makan malam. Ternyata rileks bagi cewek berarti melakukan kegiatan yang menyenangkan bagi dia. Sementara kamus di otakku menerjemahkan rileks itu sebagai tidur !
Dan karena jam kosannya Diza yang ga bisa dimanipulasi, dia “terpaksa” pulang jam 8 malam.
Lega juga rasanya bisa membuat ratu keindahan itu semangat lagi, kayaknya ga percaya deh ada orang yang bisa bilang TIDAK sama dia. Mungkin dosen2nya memang terlalu “idealis”, atau setidaknya mencoba idealis biar tetap dianggap dosen. Mungkin Diza lupa melemparkan senyuman mautnya itu pada dosen sehingga dia harus merevisi laporan-laporannya. Tapi sudahlah, don’t be shy ! Dosen kan juga perlu hiburan. Dan kayaknya dosen juga manusia.
Kurebahkan tubuhku, aku sudah ada planing untuk tidur agak sore, biar bisa bangun pagi2. Di taman kampus biasa ada gratisan nescafee. Kalo datangnya kurang pagi bisa keabisan.
Kurapatkan selimut yang kayaknya terakhir aku cuci 10 hari yang lalu. Suara cicak cicak di dinding yang diam diam merayap mulai membantu buaian malam untuk merenggutku ketika tiba-tiba sisa otakku kembali siap menguap… dan… Haahhh TUGAS AUTOCAD-Ku !!!